Selasa, 13 Februari 2018

gempa

Gempa perubah resah


Debaran jantung berlama-lama menghinggap seakan tak mau keluar.
Pertanyaan yang akan dilontarkan salah seorang guru di sekolah itu menjadi alasan utama mengapa dia terdiam pada ketakutan yang mendalam.Tentu tidak dengan porsi berlebihan.


satu menit....

lima menit dua puluh detik....

Sepuluh menit....


Waktu seolah-olah berderu untuk memburu,Keringat peluh membasahi tubuh diiringi dengan kegelisahan dikala senja.Menahan perasaan lelah akibat degupan yang berlomba-lomba.
Seperti mendengar degupan teruntuk hamba yang lemah,bawah kursinya nya mendadak bergerak layaknya ada yang mendorong,namun ketika ditengok tidak ada siapa pun yang melakukan itu.


'Apakah aku akan terjatuh?'tanya dirinya sendiri sembari memegang meja.Benak nya terus berpikir jernih jika ini hanya efek dari dirinya yang teramat resah.Namun Teriakan seorang siswa membuatnya sadar jika memang ada yang tidak beres disini.


"EH INI GEMPA YA!?!?" murid perempuan berkuncir langsung berdiri dengan raut panik dan kalut


"IYA WOYY GEMPAA....GEMPAAA...."Pekik para lelaki yang duduk di kursi belakang


Frekuensi bertambah di selang murid-murid menyadari jika gempa terjadi.


"LARIII...Lariiiii..."tapakan demi tapakan sepatu berebut keluar dari ruangan persegi empat yang membuat nafas sesak.


Air muka ketakutan tidak dapat disembunyikan saat seluruh siswa berlarian menyelamatkan diri tanpa membawa barang berharga.Disinilah Peristiwa yang hampir tidak pernah terjadi malahan berlaku dimana Introgasi guru dianggap hanya lantunan musik rusak yang terhempas kokohnya angin.


Wanita itu menatap pemandangan kalut yang ada di lapangan  dan di depan koridor.Semuanya berkeliaran tak tentu arah,tidak peduli akan suara dan orang disekelilingan.


"Dimohon untuk tenang,untuk siswa di lantai 2,3 dan 4 harap segera turun,"Interogasi salah seorang guru ketika gempa sudah berlalu


Dia melangkah menuruni tangga perlahan dengan kepala menunduk penuh rasa rendah terhadap pemilik segalanya,Ia merogoh kantong,mencari-cari letak kartu elektronik miliknya,Perempuan itu mencari dikantong tas biru samudra bergores merah,lalu menemukan apa yang dicarinya dua menit lalu.Ia menatap kedepan dan tidak sengaja melihat kaligrafi dengan tulisan Allah.


Perempuan itu menatap sejenak tulisan indah dan larut dalam renungan.Lalu merabanya dengan jemari bergetar,"Lailahaillah.."
Rentetan peristiwa menjadikan ia paham jika Allah tidak main-main pada hambanya yang mengadu